SELAMAT DATANG, SEMOGA BERMANFAAT DAN MENINGKATKAN JALINAN SILARURAHIM

Senin, 20 Agustus 2012

KEMENAG KAB. BANTUL SELENGGARAKAN RUKYATUL HILAL AWAL BULAN SYAWAL 1433 H

Bantul-(Urais): Awal bulan suci Ramadhan tahun 1433 H, khususnya di Indonesia telah terjadi perbedaan di kalangan masyarakat Islam Indonesia. Hal ini bisa dilihat dari fakta di tengah-tengah masyarakat Islam. Ada yang mengawali puasa Ramadlan 1433 H pada hari Jum’at/ 20 Juli 2012, dan ada yang mengawalinya pada hari Sabtu/21 Juli 2012. Perbedaan semacam ini kerap kali terjadi, Namun, umat Islam sudah semakin berpengalaman dan familiar dengan perbedaan yang acap kali terjadi hampir setiap tahun itu, Mereka tetap menjaga toleransi antara satu dengan lainnya dengan mengedepankan sikap silaturrahim dan menjalin ukhuwah sehingga tidak pernah lagi ditemukan konflik yang memanas yang berujung pada kondisi saling bermusuhan, apalagi sampai beradu fisik. Ini merupakan bentuk keberhasilan kementerian Agama dalam memberikan pembinaan kepada umat Islam terutama dalam pembinaan hisab rukyat yang dilakukan sebanyak tiga kali dalam satu tahun.


Memasuki akhir bulan Ramadlan 1433 H, tepatnya tanggal 29 Ramadlan 1433 H, Kementerian Agama bersama MUI dan ormas Islam (NU, Muhammadiyah, HTI dlll) dengan menggandeng instansi pemerintah lainnya, seperti Pengadilan Agama, BMKG, Pemda, Kominfo serta lembaga swasta lain yang berkompenten dalam kegiatan semacam ini, seperti RHI dan BHRD menyelenggarakan kegiatan pemantauan hilal (rukyatul hilal) untuk menentukan permulaan awal bulan Syawal 1433 H di Pos pemantauan bulan (POB) Syekh Bela Belu Parangtritis Kretek, pada hari Sabtu, 18 Agustus 2012 pada pukul 15.30 WIB sampai dengan 18.30 WIB. Kegiatan ini diikuti oleh 50 peserta yang secara resmi mendapatkan undangan dari kan Kemenag Kab. Bantul, namun seperti sebelumya, kegiatan ini juga mendapatkan perhatian khusus dari masyarakat Islam, mereka ikut serta hadir memadati POB untuk menyaksikan hilal meskipun mereka tidak mendapatkan jatah undangan secara resmi. Hal ini menunjukkan bahwa pemantauan hilal menjadi suatu kebutuhan tersendiri bagi umat Islam untuk mengetahui permulaan awal bulan dalam sistem kalender hijriyah. Selain itu juga di tambah dengan motifasi perintah Rasululah SAW untuk melihat hilal pada akhir bulan hijriyah.

Acara pemantauan hilal di awali dengan pembukaan dan pengarahan yang dsampaikan oleh kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama D.I Yogyakarta, Drs. H. Maskul Haji, M.Pd.I. dalam sambutan pengarahnnya beliau menyampaikan bahwa kegiatan pemantauan hilal yang dilakukan kementerian agama merupakan kegiatan yang positif dan bermanfaat bagi masyarakat, karena dengan rukyah akan diketahui kapan suatu bulan hijriyah di awali, hal ini juga merupakan kegiatan sunnah sesuai anjuran Rasulullah SAW .

Pemantauan hilal dilakukan dibawah koordinasi Drs. Muttoha Arkanuddin dan Drs. H. Sofwan Jannah, M.Ag. tepat pada saat Matahari terbenam di ufuk barat pada pukul 17:39 WIB pada azimuth 282°53' atau 22,9° di Utara titik Barat. Tinggi Hilal saat Matahari terbenam adalah 7°21' atau 7,3° diatas ufuk mar'i di kiri-atas Matahari. Bulan terbenam pada pukul 18:10 WIB pada azimuth 274°43'. Pada kondisi seperti ini secara astronomis Hilal berpeluang dirukyat baik dengan menggunakan mata telanjang maupun menggunakan alat bantu astronomis seperti teleskop. Namun dari hasil pemantauan hilal yang dilakukan di POB Syekh Bela Belu ini dinyatakan bahwa hilal tidak bisa dilihat meskipun ketinggiannya berada di atas 2° sesuai dengan kriteria imkanurrukyat dikarenakan kondisi cuaca di barat dalam keadaan mendung, yang menghalangi para perukyat melihat hilal.
Hasil dari pemantauan  hilal tersebut dikirim ke Kementerian Agama RI pusat sebagai salah satu bahan untuk melakukan sidang isbat bersama MUI dan ormas-ormas Islam lainnya. (fzn)
Ilustrasi Ketinggian Hilal

Ilustrasi Visibilitas Hilal
KETERANGAN :
  1. Sangat tidak mungkin daerah yang berada di bawah arsiran MERAH (E) dapat menyaksikan Hilal, sebab pada saat itu Bulan  terbenam lebih dulu sebelum Matahari terbenam atau ijtimak lokal (topocentric conjunction) terjadi setelah Matahari terbenam.
  2. Daerah yang berada pada area BIRU TUA (D) (tak berarsiran) juga  tidak memiliki peluang menyaksikan hilal sekalipun menggunakan alat bantu optik (binokuler/teropong), sebab kedudukan Hilal masih sangat rendah ( <6° ) dan terang cakram Bulan masih terlalu kecil sehingga cahaya Hilal tidak mungkin teramati.
  3. Hilal baru mungkin dapat teramati menggunakan alat bantu optik pada area di bawah arsiranBIRU MUDA (C). Pada area ini pun masih sangat sulit karena dibutuhkan kondisi langit yang sangat cerah terutama di langit Barat.
  4. Wilayah yang berada dalam arsiran UNGU (B) hanya dapat menyaksikan hilal menggunakan alat bantu optik sedangkan untuk melihat langsung dengan mata diperlukan kondisi cuaca yang sangat cerah dan ketelitian pengamatan.
  5. Hilal dengan mudah dapat disaksikan pada area di bawah arsiran HIJAU (A) baik menggunakan mata telanjang apalagi menggunakan peralatan optik dengan syarat kondisi udara dan cuaca cukup baik.
  6. Peta ini dibuat dan hanya berlaku untuk daerah 60° Lintang Utara sampai 60° Lintang Selatan.
(ilustrasi dan keterangan bersumber dari RHI)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan DiKomentari Ya